Kupandangi satu demi satu malaikat kecilku. Benar kata suami, anak-anak makin besar. Makin panjang (karena mereka sedang tidur ketika tulisan ini kubuat). Bita dengan pakaian khususnya ketika tidur, beberapa helai rambutnya yang panjang hitam berkibar-kibar kecil ditimpa hembusan angin dari kipas angin. Lengan dan kaki Safir yang semakin kokoh, menyokong tubuh sang pejantan tangguh yang sangat mencintai sang bunda. Ah, Salman yang tidak bisa besar badannya karena tidak suka makan nasi. Ia hanya mengkonsumsi susu secara berlebihan dan ikan laut tanpa nasi. Enjie yang semakin menggantung kedua buah pipi tembemnya. Kakinya semakin kuat menyokong tubuh yang mengikuti sunnahtullahnya untuk berjalan.
Bukan hanya fisik. Alhamdulillah, Bita semakin pintar mengajinya, asmaul husnanya semakin oke, Safir semakin bagus tulisan tangannya (hal yang sulit kupercaya karena begitu kinestetisnya dia), Salman semakin oke motoriknya, kemampuan bahasanya semakin meningkat (sudah bisa menyanyikan lagu-lagu Iqro’ walau beberapa huruf hijaiyah yang diucapkan masih sekedar menirukan dan cadel), Enjie yang suka mengerak-gerakkan tangannya, menaikturunkan badannya ketika ada suara musik dan nyanyian.
Seorang remaja menarik perhatianku. Dendi, anak yang dititipkan Allah kepadaku. Mengapa aku tak mampu meraih hatinya. Khas remajakah? Atau ada yang salah dalam diriku sehingga merajukku untuk belajar menjadi orang tua bagi anak remaja seusianya. Beberapa kali upaya pemberontakan, namun beberapa kali pula hati tetaplah terpaut. Ah, hidup begitu indahnya dengan selaksa peristiwa. Jatuh bangun, canda tawa dan air mata mengiringi hari seperti matahari yang tak pernah alpa janji pada sang pagi.
Lalu kuberalih pada sosok laki-laki dewasa yang baru saja menyapaku dengan sapaan khasnya menjelang tidur. Hari ini Abi, begitu anak-anak memanggil, harus pulang larut karena ada acara kantor. Konsekuensinya, aku harus naik kendaraan umum. Beberapa sms cantik kukirim untuk mengusir kejenuhan dan menyalurkan energi rindu pada sang kekasih. Begitulah, aku harus mengawalnya dengan kalimat-kalimat pendek nan manis agar lelah tak memakan tubuh dan pikiranya. Segera saja hp kami dipenuhi cinta merah jambu.
Kini ia tertidur dengan waktu telah memakan energinya hingga lelah tampak di wajahnya. Tapi begitulah, tangan kokoh dan hati seluas samuderanya selalu tak lekang dimakan waktu. I love U.
Semuanya sungguh harta yang tak ternilai harganya. Amanah yang selalu mengingatkanku, mengerakkan langkah kaki dan hatiku untuk selalu berjalan di jalan yang lurus. Allah, jagalah keluargaku dari hal-hal yang membahayakan kami dan berikanlah penjagaanmu yang sempurna. Amiin.
Wednesday, March 4, 2009
Friday, February 20, 2009
Perempuan Berkalung Surban
CITO, 12.45. Itu artinya, kami terlambat 15 menit dari jam tayang yang dijadwalkan.
Seorang teman terpaksa tidak bisa masuk karena STNKnya ketinggalan. Benar saja, sesampai di loket film yang kami incar sudah main 15 menit yang lalu. Tak apa.
Perempuan Berkalung Surban. Sebuah simbolisme yang menarik. Surban mewakili gender laki-laki. Bisa diartikan seorang perempuan seperkasa laki-laki. Atau bisa jadi perempuan di bawah kendali laki-laki.
Mengikuti scene demi scene jelaslah bahwa film ini memihak perempuan. Annisa, anak seorang kyai sebuah pesantren di Jawa yang memiliki cita-cita tinggi. Jatuh cinta pada seorang kerabat jauh yang dipanggil lek Chudori, seorang pemuda lulusan Cairo. Selepas SMU secara diam-diam ia mengirim surat lamaran beasiswa ke sebuah Perguruan Tinggi di Jogya dan Kairo, Mesir.
Alih-alih ke Kairo, keinginan ini terpaksa sirna karena budaya pesantren yang mengukung hidup perempuan. Perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena surga bisa didapat dari tunduk patuh pada suami. Melayani suami dan menjadi ibu bagi anak-anaknya. Annisa dinikahkan dengan seorang anak kyai, Samsudin—yang kelak diketahui banyak membantu
jalannya roda pesantren ayahnya namun dengan niat terselubung: menikahkan anaknya yang berandal agar segera berhenti keberandalannya.
4 tahun kemudian diceritakan bahwa kehidupan Annisa benar-benar hanya berkumpar antara dapur, kasur, dan sumur. Pun, ia mengalami apa yang banyak ditakutkan perempuan: KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Tidak jarang tangan melayang, kaki menendang. Bahkan untuk urusan ranjang sekalipun, ia tidak kuasa menolak karena hadist-hadist yang mengutuk perempuan yang menolak suaminya segera meluncur dari mulut laki-laki biadab ini. Hingga suatu saat Annisa merasa sudah tidak tahan. Ia meraih belati dan mengancam membunuh Samsudin. (Sampai disini saya segera teringat dengan novel Khaled Hussein, A thousand Splendid Sun) Ketika ia memutuskan untuk meninggalkannya, Samsudin segera meminta ampun dan menyembahnya. Annisa menyerah karena Samsudin telah tobat.
Belum lama merasakan kebebasan dari belenggu laki-laki, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa Samsudin menghamili seorang perempuan dan harus menikahinya karena agama mengijinkan laki-laki mengawini 4 orang perempuan . Konflik batin terjadi lagi karena ternyata Samsudin menempatkan istri muda ini serumah dengannya. Nyaris, ia jadi pembantu. Ia harus merawat bayi madunya sementara perempuan itu sedang bermesraan dengan suaminya.
Spirit Kebebasan
Kebebasan, sebuah kata impian bagi Annisa. Maka tatkala ia bertemu dengan lelaki dari masa lalunya, lek Chudori, ia tumpahkan semuanya. Bahkan ia merelakan dirinya dizinahi agar segera terbebas dari belenggu Samsudin. Ibarat nabi Yusuf bertemu Zulaikha, Chudori menolak solusi yang tidak solutif tersebut. Terlambat, Samsudin menemukan keduanya dan meneriakkan rajam sebagai hukuman para pezina. Untunglah kehadiran sang ibu membatalkan hukuman tersebut. Singkat cerita, Samsudin menceraikan Annisa. Ia segera menyongsong kebebasannya dan menjemput impian di Jogya.
Disana ia bertemu dengan teman lamanya yang telah menjadi seorang mahasiswi. Ia dihadapkan bahwa kebebasan yang lain, dunia mahasiswa yang bebas tanpa batas. Bahkan kehidupan seksual yang suci dicederai dengan fenomena free seks. Apakah kebebasan seperti ini yang dicarinya?
Pengalaman KDRT dalam rumah tangga Annisa membawanya pada sebuah Women Crisis Center, sebuah lembaga advokasi perempuan. Ia terjun secara aktif melakukan advokasi pada perempuan yang kurang beruntung dalam berumah tangga. Disamping itu, ia juga melemparkan wacana kebebasan kepada pesantren tradisional ayahnya yang diwariskan pada kakak laki-lakinya yang masih menganut paham patriarkhi.
Dari sini bisa kita lihat keperkasaan Annisa sebagai perempuan. Pernikahannya dengan Chudori membuahkan seorang anak yang terpaksa menjadi yatim karena ayahnya meninggal karena kecelakaan. Annisa berduka. Tapi kemudian ia bangkit dan berjuang menyembuhkan sang luka dengan mewujudkan impiannya bagi para anak perempuan: kebebasan dalam menentukan kehidupan, menuntut ilmu dan meraih cita. Bukan kebebasan yang kebablasan.
Akhirnya, dengan kepercayaan diri yang dalam dibuangnya sang surban pengalung lehernya: dominasi laki-laki dalam hidupnya.
Seorang teman terpaksa tidak bisa masuk karena STNKnya ketinggalan. Benar saja, sesampai di loket film yang kami incar sudah main 15 menit yang lalu. Tak apa.
Perempuan Berkalung Surban. Sebuah simbolisme yang menarik. Surban mewakili gender laki-laki. Bisa diartikan seorang perempuan seperkasa laki-laki. Atau bisa jadi perempuan di bawah kendali laki-laki.
Mengikuti scene demi scene jelaslah bahwa film ini memihak perempuan. Annisa, anak seorang kyai sebuah pesantren di Jawa yang memiliki cita-cita tinggi. Jatuh cinta pada seorang kerabat jauh yang dipanggil lek Chudori, seorang pemuda lulusan Cairo. Selepas SMU secara diam-diam ia mengirim surat lamaran beasiswa ke sebuah Perguruan Tinggi di Jogya dan Kairo, Mesir.
Alih-alih ke Kairo, keinginan ini terpaksa sirna karena budaya pesantren yang mengukung hidup perempuan. Perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena surga bisa didapat dari tunduk patuh pada suami. Melayani suami dan menjadi ibu bagi anak-anaknya. Annisa dinikahkan dengan seorang anak kyai, Samsudin—yang kelak diketahui banyak membantu
jalannya roda pesantren ayahnya namun dengan niat terselubung: menikahkan anaknya yang berandal agar segera berhenti keberandalannya.
4 tahun kemudian diceritakan bahwa kehidupan Annisa benar-benar hanya berkumpar antara dapur, kasur, dan sumur. Pun, ia mengalami apa yang banyak ditakutkan perempuan: KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Tidak jarang tangan melayang, kaki menendang. Bahkan untuk urusan ranjang sekalipun, ia tidak kuasa menolak karena hadist-hadist yang mengutuk perempuan yang menolak suaminya segera meluncur dari mulut laki-laki biadab ini. Hingga suatu saat Annisa merasa sudah tidak tahan. Ia meraih belati dan mengancam membunuh Samsudin. (Sampai disini saya segera teringat dengan novel Khaled Hussein, A thousand Splendid Sun) Ketika ia memutuskan untuk meninggalkannya, Samsudin segera meminta ampun dan menyembahnya. Annisa menyerah karena Samsudin telah tobat.
Belum lama merasakan kebebasan dari belenggu laki-laki, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa Samsudin menghamili seorang perempuan dan harus menikahinya karena agama mengijinkan laki-laki mengawini 4 orang perempuan . Konflik batin terjadi lagi karena ternyata Samsudin menempatkan istri muda ini serumah dengannya. Nyaris, ia jadi pembantu. Ia harus merawat bayi madunya sementara perempuan itu sedang bermesraan dengan suaminya.
Spirit Kebebasan
Kebebasan, sebuah kata impian bagi Annisa. Maka tatkala ia bertemu dengan lelaki dari masa lalunya, lek Chudori, ia tumpahkan semuanya. Bahkan ia merelakan dirinya dizinahi agar segera terbebas dari belenggu Samsudin. Ibarat nabi Yusuf bertemu Zulaikha, Chudori menolak solusi yang tidak solutif tersebut. Terlambat, Samsudin menemukan keduanya dan meneriakkan rajam sebagai hukuman para pezina. Untunglah kehadiran sang ibu membatalkan hukuman tersebut. Singkat cerita, Samsudin menceraikan Annisa. Ia segera menyongsong kebebasannya dan menjemput impian di Jogya.
Disana ia bertemu dengan teman lamanya yang telah menjadi seorang mahasiswi. Ia dihadapkan bahwa kebebasan yang lain, dunia mahasiswa yang bebas tanpa batas. Bahkan kehidupan seksual yang suci dicederai dengan fenomena free seks. Apakah kebebasan seperti ini yang dicarinya?
Pengalaman KDRT dalam rumah tangga Annisa membawanya pada sebuah Women Crisis Center, sebuah lembaga advokasi perempuan. Ia terjun secara aktif melakukan advokasi pada perempuan yang kurang beruntung dalam berumah tangga. Disamping itu, ia juga melemparkan wacana kebebasan kepada pesantren tradisional ayahnya yang diwariskan pada kakak laki-lakinya yang masih menganut paham patriarkhi.
Dari sini bisa kita lihat keperkasaan Annisa sebagai perempuan. Pernikahannya dengan Chudori membuahkan seorang anak yang terpaksa menjadi yatim karena ayahnya meninggal karena kecelakaan. Annisa berduka. Tapi kemudian ia bangkit dan berjuang menyembuhkan sang luka dengan mewujudkan impiannya bagi para anak perempuan: kebebasan dalam menentukan kehidupan, menuntut ilmu dan meraih cita. Bukan kebebasan yang kebablasan.
Akhirnya, dengan kepercayaan diri yang dalam dibuangnya sang surban pengalung lehernya: dominasi laki-laki dalam hidupnya.
Thursday, October 30, 2008
Maman Sang Zoologist
Lain Safir lain Salman. Kalau Safirku begitu kinestesis maka Salman adalah sang pengamat kehidupan, hewan khususnya. Tidak kurang dari semut, nyamuk, belalang, kupu-kupu pernah jadi objek penelitiannya. Anehnya, hewan-hewan ini dengan mudah ditangkap Maman. Entah lem apa yang ada di tangannya sehingga ia dengan mudah menangkap semut, nyamuk, belalang, dan kupu-kupu. Pernah dalam satu hari ia mampu menangkap 4-5 belalang. Binatang tersebut kemudian dipelihara dalam sebuah keranjang plastik. Kemudian Maman akan memberinya makan dedaunan.
Karena Maman masih belum paham akan keselamatan hewan maka tak jarang belalang tersebut terjepit penutup keranjang. Kalau sudah begitu maka aku yang cerewet memaksanya melepas peliharaannya itu. Daripada menyiksa binatang, kan dosa. Seperti biasa, ia akan menangis.
Seminggu terakhir ini ia sedang menggeluti (dalam arti yang sesungguhnya) binatang yang lebih besar. Kucing. Mulanya ada seekor anak kucing yang masuk ke halaman rumah. Suara meongnya menarik perhatian Maman. Tidak lama kemudian ia sudah mengajaknya bicara, memberinya makan, dan tak lupa menentengnya kemana-mana. Tentu saja bersama teman-teman sebayanya. Ada sekitar 4-5 anak seusianya yang asyik dengan binatang ini. Padahal kucing tersebut kotor!
Saking jengkelnya aku pernah coba membuang kucing tersebut ke sawah di seberang perumahan namun ia kembali. Gak tanggung-tanggung, ia bawa tiga saudaranya. Jadilah sekarang ada empat anak kucing yang mewarnai kehidupan Maman dan teman-temannya. Dan Maman sangat piawai menggendongnya, Ia bahkan tidak takut dicakar. Pernah sih ia merasakan dicakar kucing tapi dasar Maman, menangis sebentar kemudian kembali asyik dengan kucingnya. Tentu saja, ia semakin jarang di rumah karena sang kucing berlari-lari di sepanjang jalan perumahan. Dan seperti di iklan-iklan di TV, ia akan pulang dengan baju dan badan yang kotor. Sering ia pulang menangis karena tercebur got.
Ketika di suatu hari Safir ingin dibelikan kura-kura, aku merasa itu momen yang sangat pas untuk mengalihkan perhatian Maman dari kucing. Segera kubelikan kura-kura dan benar saja. Kura-kura menarik minat zoologist tampan itu. Hari berikutnya kulengkapi dengan ikan-ikan mungil dan kutaruh dalam aquafil, semacam aquarium mini berbentuk toples. Tentu saja sang zoologist itu tidak puas sekedar melihat sang ikan maka tangan-tangan mungilnya segera meraup ikan-ikan di dalam toples itu.
Maman, ummi berdoa semoga engkau menjadi zoologist yang sholeh... amin
Karena Maman masih belum paham akan keselamatan hewan maka tak jarang belalang tersebut terjepit penutup keranjang. Kalau sudah begitu maka aku yang cerewet memaksanya melepas peliharaannya itu. Daripada menyiksa binatang, kan dosa. Seperti biasa, ia akan menangis.
Seminggu terakhir ini ia sedang menggeluti (dalam arti yang sesungguhnya) binatang yang lebih besar. Kucing. Mulanya ada seekor anak kucing yang masuk ke halaman rumah. Suara meongnya menarik perhatian Maman. Tidak lama kemudian ia sudah mengajaknya bicara, memberinya makan, dan tak lupa menentengnya kemana-mana. Tentu saja bersama teman-teman sebayanya. Ada sekitar 4-5 anak seusianya yang asyik dengan binatang ini. Padahal kucing tersebut kotor!
Saking jengkelnya aku pernah coba membuang kucing tersebut ke sawah di seberang perumahan namun ia kembali. Gak tanggung-tanggung, ia bawa tiga saudaranya. Jadilah sekarang ada empat anak kucing yang mewarnai kehidupan Maman dan teman-temannya. Dan Maman sangat piawai menggendongnya, Ia bahkan tidak takut dicakar. Pernah sih ia merasakan dicakar kucing tapi dasar Maman, menangis sebentar kemudian kembali asyik dengan kucingnya. Tentu saja, ia semakin jarang di rumah karena sang kucing berlari-lari di sepanjang jalan perumahan. Dan seperti di iklan-iklan di TV, ia akan pulang dengan baju dan badan yang kotor. Sering ia pulang menangis karena tercebur got.
Ketika di suatu hari Safir ingin dibelikan kura-kura, aku merasa itu momen yang sangat pas untuk mengalihkan perhatian Maman dari kucing. Segera kubelikan kura-kura dan benar saja. Kura-kura menarik minat zoologist tampan itu. Hari berikutnya kulengkapi dengan ikan-ikan mungil dan kutaruh dalam aquafil, semacam aquarium mini berbentuk toples. Tentu saja sang zoologist itu tidak puas sekedar melihat sang ikan maka tangan-tangan mungilnya segera meraup ikan-ikan di dalam toples itu.
Maman, ummi berdoa semoga engkau menjadi zoologist yang sholeh... amin
Safir Jadi Imam
“Mi, apa kalau sudah tua kita mati?” tanya Safir menjelang tidur malam. Tak seperti biasa, ia ingin tidur bersamaku.
“Ya,” jawabku pendek.
“Kenapa mas Safir tanya hal itu?” tanyaku kemudian.
“Tadi di sekolahku ada orang mati, Mi. Apa kalau mati dikubur, Mi?Kenapa dikubur, Mi?”
Belum sempat aku menerangkannya, si Jabrik ini bertanya kembali, “Mi, kalau ada anjing laut, apa ada harimau laut? Monyet laut, kelinci laut?” Jadilah malam itu kubangun komunikasi dengannya, malaikat kecilku yang penuh rasa ingin tahu.
Tidak seperti kakaknya, anak nomor duaku itu sangat kinestetis. Dalam beberapa hal, ia cenderung destruktif.Tangan dan kakinya tidak pernah diam. Tidak jarang mereka makan korban. Setiap benda yang di dekatnya akan menderita. Mainan, contohnya. Tidak ada satu pun mainannya yang utuh. Selalu cacat. Baik itu mobil-mobilan (hilang roda, yang sering), robot (tangan, kaki, kepala sering terpisah dari badan), tembak (hilang bunyi, patah), puzzle apalagi. Adiknya yang makhluk hidup pun tidak jarang terkena imbasnya. Karena sekarang Maman sudah besar, maka ia akan melawan. Terjadilah pertempuran sengit dua pejantan tangguh.
Pernah aku sangat desperate karena ulah si Jabrik itu. Aku begitu menyerah seolah-olah Safir memang tak bisa dikendalikan. Sampai aku membaca artikel parenting tulisan ust. Ahmad. Kalau anak nakal, orang tua cenderung mengatakan anaknya memang nakal. Padahal tidak seharusnya seperti itu. Justru di anak itulah universitas kehidupan berlangsung. Ortu harus tertantang mempelajari anaknya, mengapa anaknya sampai seperti itu.
Dengan cara pandang seperti itu aku merasa lebih ringan. Aku jadi sering mengamati tingkah pola anakku, terutama si Jabrik itu.
Azan Maghrib mengantar kedatangan kami ke rumah. Seperti biasa kubentangkan tangan tuk memeluk malaikat-malaikat kecil itu. Momen yang sangat kurindukan ketika kerja.
“Mi, aku yang mimpin sholat Maghrib ya?” pinta Safir mengejutkanku. Biasanya, ia yang paling susah diajak sholat.
“Oke, pren!” kataku sambil mengacungkan dua jempol.
Ketika aku sudah siap maka Safir segera memulai sholatnya. Mengalir dengan lancar dari lisannya Surat Al fatehah, An-Nas di rakaat pertama, Al-Falaq di rakaat kedua dan Al Kautsar di rakaat ketiga.
Duh Gusti ....
“Ya,” jawabku pendek.
“Kenapa mas Safir tanya hal itu?” tanyaku kemudian.
“Tadi di sekolahku ada orang mati, Mi. Apa kalau mati dikubur, Mi?Kenapa dikubur, Mi?”
Belum sempat aku menerangkannya, si Jabrik ini bertanya kembali, “Mi, kalau ada anjing laut, apa ada harimau laut? Monyet laut, kelinci laut?” Jadilah malam itu kubangun komunikasi dengannya, malaikat kecilku yang penuh rasa ingin tahu.
Tidak seperti kakaknya, anak nomor duaku itu sangat kinestetis. Dalam beberapa hal, ia cenderung destruktif.Tangan dan kakinya tidak pernah diam. Tidak jarang mereka makan korban. Setiap benda yang di dekatnya akan menderita. Mainan, contohnya. Tidak ada satu pun mainannya yang utuh. Selalu cacat. Baik itu mobil-mobilan (hilang roda, yang sering), robot (tangan, kaki, kepala sering terpisah dari badan), tembak (hilang bunyi, patah), puzzle apalagi. Adiknya yang makhluk hidup pun tidak jarang terkena imbasnya. Karena sekarang Maman sudah besar, maka ia akan melawan. Terjadilah pertempuran sengit dua pejantan tangguh.
Pernah aku sangat desperate karena ulah si Jabrik itu. Aku begitu menyerah seolah-olah Safir memang tak bisa dikendalikan. Sampai aku membaca artikel parenting tulisan ust. Ahmad. Kalau anak nakal, orang tua cenderung mengatakan anaknya memang nakal. Padahal tidak seharusnya seperti itu. Justru di anak itulah universitas kehidupan berlangsung. Ortu harus tertantang mempelajari anaknya, mengapa anaknya sampai seperti itu.
Dengan cara pandang seperti itu aku merasa lebih ringan. Aku jadi sering mengamati tingkah pola anakku, terutama si Jabrik itu.
Azan Maghrib mengantar kedatangan kami ke rumah. Seperti biasa kubentangkan tangan tuk memeluk malaikat-malaikat kecil itu. Momen yang sangat kurindukan ketika kerja.
“Mi, aku yang mimpin sholat Maghrib ya?” pinta Safir mengejutkanku. Biasanya, ia yang paling susah diajak sholat.
“Oke, pren!” kataku sambil mengacungkan dua jempol.
Ketika aku sudah siap maka Safir segera memulai sholatnya. Mengalir dengan lancar dari lisannya Surat Al fatehah, An-Nas di rakaat pertama, Al-Falaq di rakaat kedua dan Al Kautsar di rakaat ketiga.
Duh Gusti ....
Saturday, October 25, 2008
Maka, nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?
Tiba-tiba saja aku harus menangis di depan cermin ini. Aktifitas yang biasanya hanya butuh waktu tak kurang dari 2-3 detik kini harus kulakukan dengan kerja keras, menguras keringat dan air mata tentunya. Aku tak bisa mengaitkan peniti di jilbabku. Kesepuluh jari tanganku serasa tebal dan rasanya seperti kesemutan. Begini rasanya kalau Allah mencabut salah satu nikmatnya. Subhanallah. Hari itu aku harus terlambat sampai 14 menit. Itupun atas saran suami, aku harus mengaitkan peniti di jilbabku sebelum mengenakannya. Mengapa tak kupikirkan sebelumnya?
Sudah hampir seminggu ternyata aku mengeluh kesemutan menetap. Mulanya aku merasa masuk angin, mual, pusing dan berkeringat dingin. Aku sudah pijat, kerokan, minum obat (hal yang paling aku tidak suka) namun masuk angin itu tak kunjung hilang. Terakhir semua jariku serasa tebal. Mau apa-apa jadi tidak enak. Mau makan pakai jari nggak bisa. Memasang kancing pada lobangnya juga kesulitan, memotong kuku pun aku tak mampu. Mengajar juga susah, baru menuliskan 11 nomor latihan grammar untuk anak-anak, sudah kaku semua. Mau sms nggak bisa, apalagi mengetik yang merupakan kebutuhan utamaku sebagai guru. Padahal pada saat itu aku punya hutang menulis untuk seorang teman. Duh Gusti, ampuni hamba jikalau tangan ini pernah hamba gunakan tidak semestinya...
Aku berpositif thinking saja, paling-paling kalau sudah beraktifitas penuh akan hilang dengan sendirinya. Sampai aku merasa tidak kuat dan menceritakan kepada seorang teman di tempat kerja. Kebetulan ia baru sembuh dari penyakit yang tidak pernah diduga sebelumnya. Ia berobat pada seorang kenalan yang berprofesi sebagai akupuntur. Segera saja ia merekomendasikannya.
Maka, sepulang kerja aku menuju ke tempatnya berpraktek bersama suami. Menurutnya peredaran darahku yang kurang lancar plus magh kambuh. Minum air putih hangat yang banyak, katanya. Ia membekaliku dengan kapsul yang dengan terpaksa aku konsumsi. Lalu, mulailah aku menggelontor tubuhku dengan air putih. Makan yang banyak, istirahat yang cukup.
Pada saat tulisan ini kubuat, jari manis dan kelingking di kedua tanganku sudah berfungsi normal. Tinggal ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah di masing-masing tanganku yang masih terasa tebal. Aku sudah mampu mengetik meski sedikit memaksa jari-jari tersebut. Aku harus bisa! Alhamdulillah. Aku juga sudah bisa mengancingkan lengan baju meski untuk mengaitkan peniti di jilbab masih terasa sukar.
Sungguh benarlah salah satu ayat dalam Al qur'an. Maka, nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?
Sudah hampir seminggu ternyata aku mengeluh kesemutan menetap. Mulanya aku merasa masuk angin, mual, pusing dan berkeringat dingin. Aku sudah pijat, kerokan, minum obat (hal yang paling aku tidak suka) namun masuk angin itu tak kunjung hilang. Terakhir semua jariku serasa tebal. Mau apa-apa jadi tidak enak. Mau makan pakai jari nggak bisa. Memasang kancing pada lobangnya juga kesulitan, memotong kuku pun aku tak mampu. Mengajar juga susah, baru menuliskan 11 nomor latihan grammar untuk anak-anak, sudah kaku semua. Mau sms nggak bisa, apalagi mengetik yang merupakan kebutuhan utamaku sebagai guru. Padahal pada saat itu aku punya hutang menulis untuk seorang teman. Duh Gusti, ampuni hamba jikalau tangan ini pernah hamba gunakan tidak semestinya...
Aku berpositif thinking saja, paling-paling kalau sudah beraktifitas penuh akan hilang dengan sendirinya. Sampai aku merasa tidak kuat dan menceritakan kepada seorang teman di tempat kerja. Kebetulan ia baru sembuh dari penyakit yang tidak pernah diduga sebelumnya. Ia berobat pada seorang kenalan yang berprofesi sebagai akupuntur. Segera saja ia merekomendasikannya.
Maka, sepulang kerja aku menuju ke tempatnya berpraktek bersama suami. Menurutnya peredaran darahku yang kurang lancar plus magh kambuh. Minum air putih hangat yang banyak, katanya. Ia membekaliku dengan kapsul yang dengan terpaksa aku konsumsi. Lalu, mulailah aku menggelontor tubuhku dengan air putih. Makan yang banyak, istirahat yang cukup.
Pada saat tulisan ini kubuat, jari manis dan kelingking di kedua tanganku sudah berfungsi normal. Tinggal ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah di masing-masing tanganku yang masih terasa tebal. Aku sudah mampu mengetik meski sedikit memaksa jari-jari tersebut. Aku harus bisa! Alhamdulillah. Aku juga sudah bisa mengancingkan lengan baju meski untuk mengaitkan peniti di jilbab masih terasa sukar.
Sungguh benarlah salah satu ayat dalam Al qur'an. Maka, nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?
Sunday, September 21, 2008
Perempuan, IT, dan Pergeseran Budaya
Kalau Anda sempat membaca buku The Girls of Ryadh karya Rajaa Al Sanea, terbitan Ufuk Publisihing House (Desember 2007) maka anda akan sedikit tercengang karena di dalamnya tersebar fakta tentang perempuan dan pergeseran budaya. Buku yang mengklaim dirinya sebagai internasional bestseller ini versi aslinya diluncurkan dalam bahasa Arab pada 2005, dan secepatnya dilarang beredar di Saudi karena isinya yang menghebohkan.
Buku ini menceritakan tentang seorang tak dikenal yang setiap minggu—setelah sholat Jum’at-- mengirimkan email bersambung kepada para wanita yang melakukan chatting di sebuah grup on line di Saudi Arabia. Email-email tersebut berisikan kisah nyata kehidupan empat sekawan gadis Ryadh: Qamran, Michelle, Shedim, dan Lumais. Email-emailnya sangat dinanti publik karena berisi kisah-kisah yang cukup kontroversial dengan budaya ketimuran mereka. Mayoritas tentang relasi lawan jenis yang tanpa tedeng aling-aling dikupas secara terbuka. Sebuah topik yang cukup menggemaskan untuk dibicarakan.
Media baru yang bisa menjadi sebuah life style baru bagi generasi muda muslim di Arab sana. Simaklah apa yang dikatakan Lumeis: Internet hanyalah media untuk tertawa dan menemukan banyak hiburan. Ini adalah satu-satunya wilayah anak muda yang aman dari pengawasan petugas Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Internet menjadi pilihan karena pertemuan di alam nyata dilarang oleh undang-undang dan nilai sosial. (hal 249)
Begitulah. Internet telah menjadi bagian hidup manusia modern. Email, chatting, friendster, dan blog hanyalah sebagian kecil dari dunia maya tersebut. Maka, fenomena tersebut harus dilihat dari dua sisi. Di satu sisi, kemajuan tehnologi telah membawa angin perubahan pada zona budaya. Tampak jelas adalah bagaimana kita sekarang bisa mengakses segala hal dalam waktu singkat. Apa yang terjadi di belahan bumi yang lain bisa kita terima dalam detik yang sama dengan di dunia barat. Tak terkecuali perempuan muda-terdidik, sebagaimana yang terjadi di Arab Saudi. Kehadiran IT menjadikan dunia ini tak berbatas ruang dan waktu.
Namun di sisi lain, kemajuan dunia IT ternyata juga bisa digunakan sebagai propaganda Barat dalam menyerang Islam. Bagaimanapun juga, media dipercaya sebagai aset terbesar dalam menyebarluaskan paham tertentu. Bahkan karena ada ruang yang hilang, bisa jadi hilang juga pranata sosial yang mengiringinya.
Tidak kalah pentingnya, perempuan merupakan makanan empuk dalam hal ini. Lihat bagaimana anda bisa mengakses gambar-gambar/pesan-pesan porno di hp, dan situs-situs internet dengan mudah. Bagaimana iklan yang merupakan produk kapitalisme begitu menjerat perempuan. Pencitraan terhadap kecantikan yang salah kaprah, gaya hidup yang dibawa oleh para trend setter bisa dengan mudah kita temui bahkan telah memasuki ranah paling pribadi, ruang tidur kita. Ya, televisi.
Meski tidak sama persis, tapi novel The Princess, masih terbitan Ufuk (2007) karya Jean P. Season juga menyoroti budaya Arab yang banyak mengungkung perempuan. Novel ini ditulis oleh orang non muslim yang kebetulan punya sahabat seorang putri kerajaan Saudi, Sultana’s daughhter. Novel ini segera menjadi best seller karena sebagian besar isinya mengupas kehidupan putri kerajaan yang notabene muslimah dengan keterkungkungannya. Sebuah potret perempuan Arab yang biasanya selalu diidentikkan dengan Islam. Saking terkungkungnya mereka, sampai-sampai mereka harus menjalani back street untuk berhubungan dengan lawan jenis. Parahnya, di bagian ini juga dikupas bagaimana mereka mengadopsi life style barat yang cenderung bebas tanpa batas, termasuk dalam sexual behaviour.
Sebagai muslim, kita harus sadar melihat kenyataan ini. Kita harus mewaspadai buku-buku yang sepertinya isinya Islami (karena judul dan covernya mengenakan identitas Islam) namun kenyataannya justru jauh dari nilai-nilai Islam. Bagaimana bisa dikatakan novel Islami jika isinya penuh dengan budaya Barat yang notabene serba terbuka. Berhati-hatikah karena Barat telah menggencarkan serangannya. Lewat pemikiran tentunya.
Baru-baru ini di Jerman telah digulirkan kampanye menentang Islam (radikal) dalam bentuk komik Andy. Komik bergambar ini menceritakan seorang pemuda Jerman bernama Andy yang mempunyai pacar seorang muslimah berjilbab bernama Aishee. Mereka digambarkan bergandengan berdua dan ingin menyelematkan kakak Aishee yang bergabung dengan Islam militan. Dan komik ini disebarluaskan di sekolah-sekolah dasar dan menengah di Jerman sebagai upaya negeri ini memproteksi generasi mudanya dari sikap militan Islam. Menurut pembuatnya, komik ini tidak ditujukan memusuhi Islam tapi hanya untuk memberikan wawasan kepada anak-anak Jerman tentang Islam yang radikal dan yang cinta damai.
Nah, media-media semacam inilah sekarang yang sedang mengancam Islam. Bisa jadi ini merupakan tahap peperangan selanjutnya karena melalui konflik bersenjata, Barat yang mula-mula memenangkan pertempuran akhirnya mengalami kekalahan. (baca: Perang Salib karya Carole Hillenbrand, 2006) Dan siapa yang akan rela jika mengalami kekalahan?
Kekalahan Barat dalam perang salib jangan sampai membuat kita terlena karena ternyata mereka telah menyiapkan strategi selanjutnya. Mereka menggempur Islam dengan kekuatan ekonominya. Barangkali kita tidak bisa berbicara banyak kalau sudah berhubungan dengan bidang yang satu ini karena Islam sangat identik dengan Negara dunia ketiga. Sekumpulan minoritas di belahan bumi ini.
Berkaitan dengan hal ini, Rudolf H Strahm dalam buku Yang Berlimpah Dan Yang Merana (1983) memberikan data yang cukup menyesakkan. Ia menyebut kondisi ini sebagai sistem ekonomi penghisapan. Penghisapan dari Dunia kesatu terhadap dunia ketiga. Disebutkan bahwa 30 % penduduk dunia yang hidup di dunia kesatu menguasai dan menikmati 82% sumber daya dunia yang ada. (hal viii) Meskipun ini buku lama, data empiris ini cukup menunjukkan kepincangan yang tajam.
Secara ekonomis mungkin kita kalah. Namun masih (selalu ada) ruang yang bisa diperjuangkan. Sebagai seorang muslim, kita harus mengambil bagian dalam concern ini. Semoga.
Buku ini menceritakan tentang seorang tak dikenal yang setiap minggu—setelah sholat Jum’at-- mengirimkan email bersambung kepada para wanita yang melakukan chatting di sebuah grup on line di Saudi Arabia. Email-email tersebut berisikan kisah nyata kehidupan empat sekawan gadis Ryadh: Qamran, Michelle, Shedim, dan Lumais. Email-emailnya sangat dinanti publik karena berisi kisah-kisah yang cukup kontroversial dengan budaya ketimuran mereka. Mayoritas tentang relasi lawan jenis yang tanpa tedeng aling-aling dikupas secara terbuka. Sebuah topik yang cukup menggemaskan untuk dibicarakan.
Media baru yang bisa menjadi sebuah life style baru bagi generasi muda muslim di Arab sana. Simaklah apa yang dikatakan Lumeis: Internet hanyalah media untuk tertawa dan menemukan banyak hiburan. Ini adalah satu-satunya wilayah anak muda yang aman dari pengawasan petugas Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Internet menjadi pilihan karena pertemuan di alam nyata dilarang oleh undang-undang dan nilai sosial. (hal 249)
Begitulah. Internet telah menjadi bagian hidup manusia modern. Email, chatting, friendster, dan blog hanyalah sebagian kecil dari dunia maya tersebut. Maka, fenomena tersebut harus dilihat dari dua sisi. Di satu sisi, kemajuan tehnologi telah membawa angin perubahan pada zona budaya. Tampak jelas adalah bagaimana kita sekarang bisa mengakses segala hal dalam waktu singkat. Apa yang terjadi di belahan bumi yang lain bisa kita terima dalam detik yang sama dengan di dunia barat. Tak terkecuali perempuan muda-terdidik, sebagaimana yang terjadi di Arab Saudi. Kehadiran IT menjadikan dunia ini tak berbatas ruang dan waktu.
Namun di sisi lain, kemajuan dunia IT ternyata juga bisa digunakan sebagai propaganda Barat dalam menyerang Islam. Bagaimanapun juga, media dipercaya sebagai aset terbesar dalam menyebarluaskan paham tertentu. Bahkan karena ada ruang yang hilang, bisa jadi hilang juga pranata sosial yang mengiringinya.
Tidak kalah pentingnya, perempuan merupakan makanan empuk dalam hal ini. Lihat bagaimana anda bisa mengakses gambar-gambar/pesan-pesan porno di hp, dan situs-situs internet dengan mudah. Bagaimana iklan yang merupakan produk kapitalisme begitu menjerat perempuan. Pencitraan terhadap kecantikan yang salah kaprah, gaya hidup yang dibawa oleh para trend setter bisa dengan mudah kita temui bahkan telah memasuki ranah paling pribadi, ruang tidur kita. Ya, televisi.
Meski tidak sama persis, tapi novel The Princess, masih terbitan Ufuk (2007) karya Jean P. Season juga menyoroti budaya Arab yang banyak mengungkung perempuan. Novel ini ditulis oleh orang non muslim yang kebetulan punya sahabat seorang putri kerajaan Saudi, Sultana’s daughhter. Novel ini segera menjadi best seller karena sebagian besar isinya mengupas kehidupan putri kerajaan yang notabene muslimah dengan keterkungkungannya. Sebuah potret perempuan Arab yang biasanya selalu diidentikkan dengan Islam. Saking terkungkungnya mereka, sampai-sampai mereka harus menjalani back street untuk berhubungan dengan lawan jenis. Parahnya, di bagian ini juga dikupas bagaimana mereka mengadopsi life style barat yang cenderung bebas tanpa batas, termasuk dalam sexual behaviour.
Sebagai muslim, kita harus sadar melihat kenyataan ini. Kita harus mewaspadai buku-buku yang sepertinya isinya Islami (karena judul dan covernya mengenakan identitas Islam) namun kenyataannya justru jauh dari nilai-nilai Islam. Bagaimana bisa dikatakan novel Islami jika isinya penuh dengan budaya Barat yang notabene serba terbuka. Berhati-hatikah karena Barat telah menggencarkan serangannya. Lewat pemikiran tentunya.
Baru-baru ini di Jerman telah digulirkan kampanye menentang Islam (radikal) dalam bentuk komik Andy. Komik bergambar ini menceritakan seorang pemuda Jerman bernama Andy yang mempunyai pacar seorang muslimah berjilbab bernama Aishee. Mereka digambarkan bergandengan berdua dan ingin menyelematkan kakak Aishee yang bergabung dengan Islam militan. Dan komik ini disebarluaskan di sekolah-sekolah dasar dan menengah di Jerman sebagai upaya negeri ini memproteksi generasi mudanya dari sikap militan Islam. Menurut pembuatnya, komik ini tidak ditujukan memusuhi Islam tapi hanya untuk memberikan wawasan kepada anak-anak Jerman tentang Islam yang radikal dan yang cinta damai.
Nah, media-media semacam inilah sekarang yang sedang mengancam Islam. Bisa jadi ini merupakan tahap peperangan selanjutnya karena melalui konflik bersenjata, Barat yang mula-mula memenangkan pertempuran akhirnya mengalami kekalahan. (baca: Perang Salib karya Carole Hillenbrand, 2006) Dan siapa yang akan rela jika mengalami kekalahan?
Kekalahan Barat dalam perang salib jangan sampai membuat kita terlena karena ternyata mereka telah menyiapkan strategi selanjutnya. Mereka menggempur Islam dengan kekuatan ekonominya. Barangkali kita tidak bisa berbicara banyak kalau sudah berhubungan dengan bidang yang satu ini karena Islam sangat identik dengan Negara dunia ketiga. Sekumpulan minoritas di belahan bumi ini.
Berkaitan dengan hal ini, Rudolf H Strahm dalam buku Yang Berlimpah Dan Yang Merana (1983) memberikan data yang cukup menyesakkan. Ia menyebut kondisi ini sebagai sistem ekonomi penghisapan. Penghisapan dari Dunia kesatu terhadap dunia ketiga. Disebutkan bahwa 30 % penduduk dunia yang hidup di dunia kesatu menguasai dan menikmati 82% sumber daya dunia yang ada. (hal viii) Meskipun ini buku lama, data empiris ini cukup menunjukkan kepincangan yang tajam.
Secara ekonomis mungkin kita kalah. Namun masih (selalu ada) ruang yang bisa diperjuangkan. Sebagai seorang muslim, kita harus mengambil bagian dalam concern ini. Semoga.
Saturday, September 20, 2008
Pandang Bahagia dengan Cara Berbeda
Judul Buku: Bahagia Tanpa Menunggu Kaya, 5 Jurus Ampuh Meraih Kebahagiaan
Penulis: Awang Surya
Penerbit: Kanzun Books
Cetakan: I, Agustus 2008
Tebal: 204 halaman
Dalam masyarakat industri modern seperti saat ini, keberhasilan lebih dinilai dengan pencapaian materi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat membawa segala bentuk kemudahan bagi manusia. Secara ekonomi, masyarakat semakin kaya, segala sesuatu mudah didapat, urusan lancar dan teratur. Namun, apakah segala bentuk kemudahan tersebut membekaskan kebahagiaan kepada masyarakatnya? Belum tentu.
Herbert Marcuse dalam bukunya One Dimensional Man mengkritisi bahwa masyarakat industri modern adalah masyarakat yang tidak sehat. Mengapa? Karena segala segi kehidupannya diarahkan pada satu tujuan saja. Yakni keberlangsungan dan peningkatan sistem yang sudah ada yang tidak lain adalah kapitalisme.
Fakta memang menunjukkan adanya tingkat produktifitas tinggi membawa peningkatan taraf hidup bagi semakin banyak orang. Namun itu semua pada dasarnya hanya bagian luar saja dari sebuah keberhasilan karena menurut Marcuse, hal tersebut belum menyangkut hakekat kehidupan manusia seutuhnya. Masyarakat industri modern tetap merupakan masyarakat yang teralienasi karena mengasingkan manusia-manusia yang menjadi warganya dari kemanusiaannya.
Senada dengan fakta di atas, Erich Fromm dalam bukunya Masyarakat Yang Sehat menyajikan data bahwa negara-negara Eropa yang paling demokratis, kaya, serta Amerika Serikat sebagai negara terkaya di dunia justru menunjukkan simpton gangguan mental paling berat. Kemakmuran hidup di kelas menengah, meskipun kebutuhan material terpuaskan ternyata mewariskan rasa bosan yang mendalam sehingga bunuh diri dan alkoholisme merupakan cara-cara patologis untuk lari dari kebosanan tersebut.
Berdasarkan hal di atas bisa disimpulkan bahwa kekayaan tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan. Meski itu tidak berarti kita tidak boleh kaya. Tidak ada yang melarang orang untuk menjadi kaya. Dampak dari kekayaan itulah yang harus dicermati. Apakah ia akan membawa pemiliknya ke arah yang positif atau bahkan sebaliknya.
Sejalan dengan itu Awang Surya meluncurkan buku Bahagia Tanpa Menunggu Kaya, 5 Jurus Ampuh Meraih Kebahagiaan ini. Buku yang akan mengajak kita kembali menengok sisi kemanusiaan kita. Sebuah sisi yang mungkin saja terlupakan karena padatnya jam kerja, berjubelnya agenda, dan kompleksitas permasalahan yang harus kita selesaikan. Buku yang akan menunjukkan kepada kita bagaimana memandang hidup dengan cara berbeda. Buku yang akan mengajak kita mengapresiasi kebahagiaan dalam arti yang sesungguhnya.
Penulis yang juga seorang trainer ini mendekonstruksi pandangan kita tentang arti bahagia. Bahwa kebahagiaan tidak terletak pada seberapa banyak kekayaan kita. Kemudian, ia menunjukkan kita jalan menuju kebahagiaan itu sendiri. Ternyata tidak sesulit dan serumit yang kita bayangkan sebelumnya.
Ia menuliskan gagasannya dengan bahasa sederhana, lugas, dan populer sehingga memudahkan pembaca mencerna setiap mutiara kehidupan yang disharingkannya. Contoh-contoh yang menyertai setiap paparan begitu dekat dengan kehidupan kita karena memang berangkat dari kenyataan di lapangan. Beragamnya kisah-kisah penuh hikmah di dalamnya memperkaya asupan gizi bagi batin kita, jiwa kita yang gersang di tengah arus hedonis-materialis.
Banyak Cara Menuju Bahagia
Banyak jalan menuju Roma. Pun, banyak cara menuju bahagia. Setidaknya ada lima jurus ampuh yang ditawarkan kepada pembaca untuk dicoba. Dilengkapi dengan latihan-latihan di akhir setiap jurus memudahkan pembaca dalam mempraktekkannya. Kelima jurus tersebut adalah bersyukur, banyak memberi, cinta sesama, tersenyum dan senang memaafkan.
Dengan bersyukur, Allah akan menambah nikmat kita. Maka, penulis yang juga Vice President sebuah perusahaan besar di Indonesia ini menambahkan kata aktif di belakang kata syukur. Artinya, bersyukur tidak hanya berhenti pada tataran ucapan melainkan diteruskan pada tindakan aktif. Contoh sederhana ketika kita diterima bekerja di tempat yang kita idam-idamkan maka syukur aktif kita adalah bekerja dengan sungguh-sungguh agar perusahaan tempat kita bekerja tersebut untung sehingga banyak membantu orang. (hal 63)
Jurus kedua, banyak memberi. Sekali lagi, tindakan aktif. Di sini, penulis memberi ilustri yang cukup menarik bahwa ketika kita memberi pada dasarnya kita telah membuka ruang untuk masuknya sesuatu yang baru. Namun ia juga mengingatkan agar kita memberi lalu lupakan. Hal ini bertujuan agar kita tidak menghitung-hitung kebaikan yang telah kita lakukan karena belum tentu apa-apa yang sudah kita lakukan itu diterimaNya. Allah tidak akan tidur dan lupa meski yang telah kita lakukan itu hal yang sangat kecil sekalipun.
Jurus selanjutnya adalah mencintai sesama, tersenyum, dan senang memaafkan. Ketiganya adalah jurus ampuh dalam menjalankan fungsi kita sebagai makhluk sosial. Bukankah kita akan bahagia jika mampu mencintai sesama?
Kalau kita jeli ternyata jurus-jurus tersebut merupakan muara dari kebesaran jiwa. Tidak perlu harta membeli kebahagiaan. Tidak perlu menunggu kaya untuk bahagia. Cukup buka hati dan lapang dada untuk mempraktekkan kelima jurus tersebut. Sesungguhnya kelima jurus di atas adalah perwujudan hablumminallah dan hablumminannas kita. Bagaimana kita memaknai syukur yang sesungguhnya. Bagaimana kita mengelola emosi kita ketika bersosialisasi dengan sesama agar setiap aktifitas yang kita lakukan memendarkan energi positif tidak saja kepada diri pribadi melainkan juga lingkungan di sekitar kita. Dengan kata lain, kelima jurus di atas adalah jalan ruhani menuju kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Selamat berburu kebahagiaan!
Penulis: Awang Surya
Penerbit: Kanzun Books
Cetakan: I, Agustus 2008
Tebal: 204 halaman
Dalam masyarakat industri modern seperti saat ini, keberhasilan lebih dinilai dengan pencapaian materi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat membawa segala bentuk kemudahan bagi manusia. Secara ekonomi, masyarakat semakin kaya, segala sesuatu mudah didapat, urusan lancar dan teratur. Namun, apakah segala bentuk kemudahan tersebut membekaskan kebahagiaan kepada masyarakatnya? Belum tentu.
Herbert Marcuse dalam bukunya One Dimensional Man mengkritisi bahwa masyarakat industri modern adalah masyarakat yang tidak sehat. Mengapa? Karena segala segi kehidupannya diarahkan pada satu tujuan saja. Yakni keberlangsungan dan peningkatan sistem yang sudah ada yang tidak lain adalah kapitalisme.
Fakta memang menunjukkan adanya tingkat produktifitas tinggi membawa peningkatan taraf hidup bagi semakin banyak orang. Namun itu semua pada dasarnya hanya bagian luar saja dari sebuah keberhasilan karena menurut Marcuse, hal tersebut belum menyangkut hakekat kehidupan manusia seutuhnya. Masyarakat industri modern tetap merupakan masyarakat yang teralienasi karena mengasingkan manusia-manusia yang menjadi warganya dari kemanusiaannya.
Senada dengan fakta di atas, Erich Fromm dalam bukunya Masyarakat Yang Sehat menyajikan data bahwa negara-negara Eropa yang paling demokratis, kaya, serta Amerika Serikat sebagai negara terkaya di dunia justru menunjukkan simpton gangguan mental paling berat. Kemakmuran hidup di kelas menengah, meskipun kebutuhan material terpuaskan ternyata mewariskan rasa bosan yang mendalam sehingga bunuh diri dan alkoholisme merupakan cara-cara patologis untuk lari dari kebosanan tersebut.
Berdasarkan hal di atas bisa disimpulkan bahwa kekayaan tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan. Meski itu tidak berarti kita tidak boleh kaya. Tidak ada yang melarang orang untuk menjadi kaya. Dampak dari kekayaan itulah yang harus dicermati. Apakah ia akan membawa pemiliknya ke arah yang positif atau bahkan sebaliknya.
Sejalan dengan itu Awang Surya meluncurkan buku Bahagia Tanpa Menunggu Kaya, 5 Jurus Ampuh Meraih Kebahagiaan ini. Buku yang akan mengajak kita kembali menengok sisi kemanusiaan kita. Sebuah sisi yang mungkin saja terlupakan karena padatnya jam kerja, berjubelnya agenda, dan kompleksitas permasalahan yang harus kita selesaikan. Buku yang akan menunjukkan kepada kita bagaimana memandang hidup dengan cara berbeda. Buku yang akan mengajak kita mengapresiasi kebahagiaan dalam arti yang sesungguhnya.
Penulis yang juga seorang trainer ini mendekonstruksi pandangan kita tentang arti bahagia. Bahwa kebahagiaan tidak terletak pada seberapa banyak kekayaan kita. Kemudian, ia menunjukkan kita jalan menuju kebahagiaan itu sendiri. Ternyata tidak sesulit dan serumit yang kita bayangkan sebelumnya.
Ia menuliskan gagasannya dengan bahasa sederhana, lugas, dan populer sehingga memudahkan pembaca mencerna setiap mutiara kehidupan yang disharingkannya. Contoh-contoh yang menyertai setiap paparan begitu dekat dengan kehidupan kita karena memang berangkat dari kenyataan di lapangan. Beragamnya kisah-kisah penuh hikmah di dalamnya memperkaya asupan gizi bagi batin kita, jiwa kita yang gersang di tengah arus hedonis-materialis.
Banyak Cara Menuju Bahagia
Banyak jalan menuju Roma. Pun, banyak cara menuju bahagia. Setidaknya ada lima jurus ampuh yang ditawarkan kepada pembaca untuk dicoba. Dilengkapi dengan latihan-latihan di akhir setiap jurus memudahkan pembaca dalam mempraktekkannya. Kelima jurus tersebut adalah bersyukur, banyak memberi, cinta sesama, tersenyum dan senang memaafkan.
Dengan bersyukur, Allah akan menambah nikmat kita. Maka, penulis yang juga Vice President sebuah perusahaan besar di Indonesia ini menambahkan kata aktif di belakang kata syukur. Artinya, bersyukur tidak hanya berhenti pada tataran ucapan melainkan diteruskan pada tindakan aktif. Contoh sederhana ketika kita diterima bekerja di tempat yang kita idam-idamkan maka syukur aktif kita adalah bekerja dengan sungguh-sungguh agar perusahaan tempat kita bekerja tersebut untung sehingga banyak membantu orang. (hal 63)
Jurus kedua, banyak memberi. Sekali lagi, tindakan aktif. Di sini, penulis memberi ilustri yang cukup menarik bahwa ketika kita memberi pada dasarnya kita telah membuka ruang untuk masuknya sesuatu yang baru. Namun ia juga mengingatkan agar kita memberi lalu lupakan. Hal ini bertujuan agar kita tidak menghitung-hitung kebaikan yang telah kita lakukan karena belum tentu apa-apa yang sudah kita lakukan itu diterimaNya. Allah tidak akan tidur dan lupa meski yang telah kita lakukan itu hal yang sangat kecil sekalipun.
Jurus selanjutnya adalah mencintai sesama, tersenyum, dan senang memaafkan. Ketiganya adalah jurus ampuh dalam menjalankan fungsi kita sebagai makhluk sosial. Bukankah kita akan bahagia jika mampu mencintai sesama?
Kalau kita jeli ternyata jurus-jurus tersebut merupakan muara dari kebesaran jiwa. Tidak perlu harta membeli kebahagiaan. Tidak perlu menunggu kaya untuk bahagia. Cukup buka hati dan lapang dada untuk mempraktekkan kelima jurus tersebut. Sesungguhnya kelima jurus di atas adalah perwujudan hablumminallah dan hablumminannas kita. Bagaimana kita memaknai syukur yang sesungguhnya. Bagaimana kita mengelola emosi kita ketika bersosialisasi dengan sesama agar setiap aktifitas yang kita lakukan memendarkan energi positif tidak saja kepada diri pribadi melainkan juga lingkungan di sekitar kita. Dengan kata lain, kelima jurus di atas adalah jalan ruhani menuju kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Selamat berburu kebahagiaan!
Subscribe to:
Posts (Atom)